Jakarta, Nusantarabicara -- Aksi teror dialami oleh sejumlah aktivis dan influencer pekan ini. Mereka menerima pesan ancaman, coretan di mobil, kiriman bangkai, hingga bom molotov.
Hingga kini setidaknya sudah ada 7 aktivis dan influencer yang menerima teror tersebut. Hal itu diduga terjadi setelah mereka mengkritik pemerintah terkait penanganan bencana di Sumatera.(1/1/2026)
Diakui atau tidak, adanya teror itu menimbulkan kecurigaan bahwa pemerintah yang melakukannya. Karena narasi yang dibangun di media ataupun media sosial demikian.
Padahal, kenyataannya belum tentu juga mereka pelakunya. Karena hingga kini belum ada bukti otentik yang mengarah ke sana.
Tapi itulah jebakan yang dipasang oleh pembuat onarnya. Teror dimunculkan agar masyarakat tidak percaya kepada pemerintah.
Apalagi pasca teror itu kemudian muncul berbagai narasi bahwa pemerintah Prabowo telah bertindak otoriter. Terus dikaitkan dengan masa lalu Prabowo yang dianggap penculik aktivis. Klop sudah.
Padahal soal isu Prabowo penculik itu pun juga belum tentu benar. Karena hingga kini tidak ada putusan hukum atau pengadilan bahwa dia bersalah atas hilangnya aktivis 1998. Isu tersebut lebih terkesan politis karena terus muncul untuk mendiskreditkan Prabowo.
Di sinilah kita perlu waspada dengan narasi pecah belah di tengah kemelut bencana. Jangan mau diadudomba antara masyarakat dengan pemerintah.
Pemerintah hingga kini terus bekerja keras menangani bencana, dan masyarakat juga bergotong royong bersolidaritas antar saudara.
Inilah saatnya kita bersatu. Kita hadapi teror dengan tidak takut sembari memperkuat persatuan. (Agus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar