Home » , , » PKPM Bekerjasama Dengan PDS HB. Jassin Mengupas "Buya Hamka Sosok Legenda Sastra Yang Fenomenal"

PKPM Bekerjasama Dengan PDS HB. Jassin Mengupas "Buya Hamka Sosok Legenda Sastra Yang Fenomenal"

Written By Nusantara Bicara on 26 Mei 2019 | Mei 26, 2019


Jakarta, nusantarabicara.co - Di dalam tubuhnya mengalir darah Minang Kabau, namun semangat ke Islamannya bergelora melebihi adat budaya nya sebagai orang minang. Beberapa karya sastranya malah sering kali mengkritisi adat budaya tempat ia dibesarkan. 

Menjelang usia tua ia hijrah dari menulis cerita tentang roman dan kisah perjalanan beralih menulis tentang buku-buku islam. Karyanya yang populer seperti Tafsir Al-Azhar 9 jilid dan lainnya sangat fenomenal dan menjadi acuan masyarakat Indonesia. 
Dalam pentas perjuangan kepada bangsa ia disejajarkan dengan tokoh-tokoh nasional lainnya. Peristiwa yang sangat fenomenal ialah ketika ia dipenjara atas perintah Ir. Soekarno namun dalam pesan menjelang kematiannya Ir. Soekarno malah berwasiat minta dishalatkan oleh Buya Hamka. 


Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) mengupas tokoh Buya Hamka Sosok Legenda Sastra yang fenomenal tersebut  dalam sebuah acara Diskusi Sastra Islam bertajuk: " Mengkaji Karya Sastra Hamka Sebagai Khazanah Peradaban Islam".

Acara yang dilaksanakan sembari buka puasa bersama tersebut berlangsung di gedung PDS HB.Jassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, (22/05/2019).

Hadir sebagai pembicara Dr.Mas’ud M.Nur Ketua Pusat Kajian Peradaban Melayu yang juga Dosen Filsafat di UHAMKA, Dr.Nelly Nailatie Ma"arif, M.BA, dosen swasta dan Desyanto MM serta Duta besar Iran sebagai tamu kehormatan. 


Menurut Dr.Mas’ud M.Nur, karya sastra HAMKA belum ada yang menyamai dari segi kualitas maupun kuantitas hingga saat ini. Meskipun HAMKA tidak mengenyam pendidikan formal namun semangat belajar dan menulisnya sangat luar biasa. HAMKA menyerap ilmu dan belajar sendiri dari berbagai pengalaman dan petualangannya. Beliau pergi merantau ke berbagai kota di Indonesia dan mulai menghasilkan karya di usia 17 tahun.

 “Semangat belajar, membaca dan menulis inilah yang patut di contoh oleh generasi muda kita saat ini. Literasi maupun menulis adalah bagian dari peradaban Islam sejak tempo dulu.

Namun dengan adanya berbagai media sosial saat ini, generasi muda mulai jarang membaca buku apalagi menulis, padahal literasi dan menulis adalah penopang utama peradaban,"ujar Dr.Mas’ud.

"Efek adanya kemajuan media sosial ( medsos) sangat mempengaruhi tata  bahasa dan bicara kita saat ini sehingga dengan belajar dan mendalami karya sastra islam, termasuk karya sastra Hamka, maka kehidupan di era saat ini akan mampu menghalau berita dan narasi hoax dan semacamnya," tambah dosen di Uhamka dan ITB ahmad dahlan ini.

Dr.Hj.Nelly Nailatie Maarif.M.BA, sebagai pengagum Hamka memaparkan tentang HAMKA dan karyanya yang fantastis.

Prof.Dr.Haji Abdul Malik Karim Amrullah disingkat HAMKA, lahir di Sungai Batang Tanjung Raya Agam 17 Pebruari 1908 dan meninggal pada 24 Juli 1981 di Jakarta dalam usia 74 tahun. Menurut referensi dan penelitian dari Dr. Nelly Nailatie, HAMKA telah menghasilkan 79 judul buku semasa hidupnya. Dari buku roman, fisafat, agama dan tafsir alquran. 

Ulama yang konsisten dengan prinsip prinsip perjuangannya ini, menurut Nelly, Buya Hamka bisa disejajarkan dengan tokoh sufi Imam Al Ghazali yang telah mennulis lebih dari 400 judul buku.

HAMKA bisa dikatakan sebagai tokoh yang membuat sejarah melalui karya-karyanya yang spektakuler. Banyak pesan cinta, moral dan pemikiran Islam. Demikian Masud menilai.sosok Buya Hamka selain sastrawan juga soaok yang menggeluti sufisme.

Desyanto MM du tengah tengah diskusi  mengungkapkan kekagumannya pada HAMKA, seorang penulis otodidak yang menghasilkan karya karya luar biasa yang terus dikaji baik di dalam maupun di luar negeri. 

Menurut Desyanto, Karya pertama Buya Hamka saat usia 17 tahun , sebuah buku roman berjudul ‘Si Sabariah’, isinya menggambarkan problematika sosial kemasyarakatan berdasarkan pengalaman pribadi yang dia saksikan di tengah- tengah realita masyarakat.

"Seorang suami yang sangat mencintai istrinya kemudian tega membunuhnya karena rasa sakit hati terhadap mertuanya yang ingin memisahkan dia dan istrinya karena dianggap tak mampu menafkahi keluarga dengan layak. Dominasi mertua dalam keluarganya akhirnya menimbulkan bencana. Setelah membunuh istrinya ‘Si Sabariah’ sang suamipun melakukan bunuh diri. Karya sastra ini dicetak sebanyak empat kali,"jelas.Desyanto yang asli Minang ini. ( ps).

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2018 - All Rights Reserved
Created by Nusantara Bicara