Home » , , » Bakar Semangat Pengunjung, Grup Bara Raih Juara Festival Musik Jalanan TNI AD

Bakar Semangat Pengunjung, Grup Bara Raih Juara Festival Musik Jalanan TNI AD

Written By Nusantara Bicara on 19 Jun 2019 | Juni 19, 2019


Tangerang, nusantarabicara.co - Grup Musik Jalanan “Bara” yang mampu membakar semangat para juri dan pengunjung menjadikannya sebagai juara pertama Festival Musik Jalanan TNI AD yang digelar oleh Staf Umum Teritorial Angkatan Darat (Sterad) mulai tanggal 17-18 Juni 2019.

Hal itu disampaikan Wakil Asisten Staf Umum Teritorial Angkatan Darat (Waaster Kasad) Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo setelah mengumumkan hasil Final Festival Musik Jalanan di Pusat perbelanjaan Mall Living World Alam Sutra Pakulonan, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Selasa (18/6/2019). 

Dijelaskan Waaster Kasad, selain karena keunikan dan kreativitasnya, yang membuat Grup Musik Bara berhasil menjadi juara I pada final Festival Musik Jalanan  dengan mengalahkan 29 grup musik lainnya adalah tema dan lagunya diciptakan mereka sendiri.

“Grup musik ini juga memberikan sentuhan lain sehingga mampu menghipnotis semangat persatuan dan kesatuan  pengunjung dan para juri,”ungkap Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo.

“Festival ini, selain untuk memacu kreativitas para pemuda atau pemusik jalanan, juga sebagai bagian dari kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) kreatif tingkat pusat,”imbuhnya.

Dikatakan Gathut, Komsos Kreatif yang dimaksud tidak hanya untuk membangun Kemanunggalan TNI-Rakyat semata, namun juga untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang saat ini dirasakan mulai pudar.

“Secara tidak sadar, globalisasi telah menggerus nilai-nilai luhur bangsa yang selama ini kita jaga dan lestarikan, yaitu rasa cinta tanah air, nasionalisme, kebersamaan, persatuan dan kesatuan, toleransi dan sebagainya,”tegas Gathut.

“Ini penting, jika kita tidak dapat menjaga nilai-nilai itu, maka cita-cita membangun persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, hanya akan menjadi angan-angan belaka,”tambahnya.

Seni musik jalanan, menurut Gathut, tidak bisa dipandang sebagai kesenian yang tumbuh dari rasa iseng, karena dalam beberapa konten yang mereka sampaikan justru lebih mengena dengan kondisi sosial kemasyarakatan.

“Jika kita cermati dan kadang kita rasakan, alunan musik dan senandung mereka, tidak hanya sebagai kritik sosial, namun juga berisi harapan dan keinginan dari para generasi muda atau musikus terhadap negerinya,” jelas Gathut.

Untuk itu, menurutnya, pesan yang disampaikan mereka harus dipandang secara positif dan dijadikan sebagai feed back (umpan balik) dengan mekanisme cara berkomunikasi yang efektif.

“Yaitu dalam sistem berkomunikasi dengan sesama, hendaknya kita harus "REACH" yakni _Respect_ atau menghormati lawan bicara, empati atau mampu merasakan yang dipikirkan oleh lawan bicara, _Audible_ atau mampu menyampaikan dan didengar oleh lawan bicara, _Clarity_ atau bahasa yg digunakan mudah dipahami/dimengerti, serta _Humble_ atau memiliki kerendahan hati,”tegas Gathut.

Namun demikian, inti dari komunikasi, menurut Gathut, tidak bisa terlepas dari sikap dan cara berfikir dari masing-masing individu, karena terkadang ego seseorang justru akan membutakan mata, hati dan pikirannya terhadap orang lain.

“Mari kita mulai pada diri kita sendiri untuk dapat merubah pola fikir menjadi lebih baik dan positif. Walaupun terlihat ringan, namun perubahan sekecil apapun yang kita lakukan dapat memberikan perubahan yang besar,”ungkapnya. 

"Tidak hanya bagi kita namun juga untuk kemajuan masyarakat dan wilayah, sehingga dengan hal tersebut akan tercipta kondisi dinamis dan kondusif diwilayahnya,”imbuhnya.

Demikian halnya dalam pertahanan negara, terangnya, peran serta mereka tidak bisa dipandang sebelah mata, dengan syair dan lagu serta semangat yang terkandung dalam alunan musiknya itu diharapkan dapat menggelorakan kembali semangat perjuangan yang diwariskan oleh para pendahulu.

“Seperti tadi kita cerna, setiap bait lagu yang disuguhkan memiliki nilai filosofis dalam menemukan dan memperjuangkan arti kehidupan dalam berbangsa,”tambah Gathut.

Untuk diketahui, Grup Musik  Bara beranggotakan lima orang yakni Zoro (vokalis), Anto (perkusi), Deni (gitar), Bayu (Okulele) dan Sony (Bass). Grup binaan Kodim 0507/Bekasi itu bermarkas di Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur.

“Seperti lagu yang dibawakan, merupakan karya cipta mereka, dengan judul yang singkat dan padat, yaitu "Persatuan". Lagu tersebut menggambarkan hasrat mereka sekaligus mengajak orang lain untuk  bersama-sama membangun kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang mereka rasakan tengah terkoyak,”ulasnya.

“Jadi, keputusan tiga juri dari Dewan Kesenian Jakarta sangatlah tepat dan secara pribadi saya juga memberikan apresiasi terhadap mereka yang mampu mengemas semangat persatuan dalam alunan musik yang apik dan menarik,”tambah Waaster Kasad.

Atas kreasi seninya tersebut, sebagai juara pertama, Grup Musik Bara berhak mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan Rp 10 Juta, tropi, piagam dan plakat dari panitia penyelenggara. Sedangkan juara kedua dan ketiga diraih grup musik binaan dari Kodim 050/Depok yaitu Grup Musikal Notes dan Grup Sindikat. 

Pada acara penutupan festival yang berlangsung meriah tersebut, selain mengucapkan terima kasih, Waaster Kasad juga  menyerahkan plakat kepada General Manajer Mall Living World, Alam Sutra Serpong dan Dewan Juri atas partisipasi dan dukungannya selama festival berlangsung.

“Terima kasih kepada semua pihak dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam festival musik jalanan ini,” ucap Waaster Kasad. 

Selain tiga pemenang, bagi juara harapan I, II dan II yaitu Grup Akustik Kota Tua , Grup Awan Kustik   dan Grup Jambul, panitia juga memberikan hadiah berupa uang pembinaan, tropi, piagam dan plakat. (Dispenad).
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2018 - All Rights Reserved
Created by Nusantara Bicara