Home » , , » Pameran Lukisan "Sontoloyo" Menggugah Kembali Karya Seni Dewan Kesenian Jakarta

Pameran Lukisan "Sontoloyo" Menggugah Kembali Karya Seni Dewan Kesenian Jakarta

Written By Nusantara Bicara on 15 Nov 2019 | November 15, 2019


Jakarta, nusantarabicara.co - Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan sketsa urban dan para kurator menggelar acara pameran visual atau lukisan bertajuk "Sontoloyo" di Galeri Cipta II Dewan Kesenian Jakarta (15/11).

Dalam Konfrensi Pers yang dihadiri oleh Ketua Dewan Kesenian Jakarta Danton Sihombing dan kurator Bamban Bojong, Lisistrata Lusandiana serta urban sketcer, timbul bahasan ”Bagaimana koleksi lukisan dibaca ulang pemaknaannya dalam arah perkembangan seni rupa serta ditafsirkan kembali dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda?” 



Berangkat dari pertanyaan tersebut Dewan kesenian Jakarta (DKJ) melalui Komite Seni Rupa mencoba menjawabnya dengan menyelenggarakan Pameran Sepilihan Koleksi DKJ dan Sketsa Urban yang bertajuk ”Sontoloyo", digelar pada 15-29 November 2019. Pameran dikuratori oleh Bambang Bujono dan Lisistrata Lusandiana. 

Dengan memaknai koleksi sebagai antologi zeitgeist, mengacu pada pendapat filsufJerman, Friederich Hegel: Bahwa tidak ada manusia yang dapat melampaui masanya sendiri, karena roh pada masanya juga rohnya sendiri. 



Metode ini lalu dipinjam sebagai titik tolak Pameran Sepilihan Koleksi DKJ & Sketsa Urban. Namun pameran ini tidak selugu itu, pameran ini bukan sekedar mengeluarkan karya-karya dari ruang penyimpanan lalu dipamerkan kepada publik. 

Penghujung dari pembacaan ini adalah memamerkan kembali 15 lukisan koleksi DKJ yang dianggap masih memiliki roh dan mampu mengikuti perkembangan seni rupa, yang mana ada nilai dan konteks yang dapat ditafsirkan ulang dalam ruang dan waktu yang berbeda. 


Pameran Sepilihan Koleksi DKJ dan Sketsa Urban juga mengundang 20 pensketsa urban untuk merespon empat karya sketsa dan satu lukisan koleksi DKJ, yakni sketsa Nashar, Zaini, Oesman Effendi, Muryoto Hartoyo, dan satu lukisan karya Zaini, yang semuanya mengambarkan suasana urban Jakarta di era 60-an. Respon dari 20 pensketsa menghasilkan 60 karya sketsa baru. 

Di samping sepilihan lima karya perupa tersebut, ditambahkan juga beberapa koleksi lukisan yang dianggap masih berkaitan dengan sketsa urban, yakni karya yang implisit mengemukakan masalah kota. 



Dipilihlah lukisan Dede Eri Supria, Berangkat Kerja (1980), Jojo Gazali, Atap-Atap (1978), lpe Ma'ruf, Pasar (tanpa tahun), serta sejumlah karya lain yang dianggap berada dalam ”wilayah” yang sama. 

Karya itu antara lain, karya Rudi Isbandi yang abstrak, Karya Basuki Resobowo yang semiabstrak, dan Hardi yang figurative dengan menampilkan potret diri berjudul Presiden RI 2001, yang dapat memperkuat pembacaan Koleksi DKJ.(ps)

Mengapa Sontoloyo? 

Frasa'“Sontoloyo" dipilih sebagai tajuk pameran kali ini karena tidak sulit menengarai bahwa sketsasketsa dan lukisan yang dibuat oleh perupa yang hasilnya kemudian menjadi koleksi DKJ itu sangat terasakan bahwa bentuk dari objek yang digambarkan oleh perupa bukanlah yang utama. 

Objek bagi mereka hanyalah semacam pintu untuk melahirkan garis-garis horizontal, vertikal, miring, serta beberapa torehan zig zag yang dibuat dengan kuas tinta hitam untuk menggambarkan gedung-gedung, menara, pasar, dan ruang urban di dalam kota. 

Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2018 - All Rights Reserved
Created by Nusantara Bicara