2 Jan 2026

Napi di Nusakambangan Mandiri Lewat Program Ketahanan Pangan


Jakarta, Nusantarabicara   --  Program Ketahanan Pangan di lapas seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dinilai berhasil memberdayakan belasan ribu narapidana (napi) yang dibina Direktorat Jenderal Permasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (Ditjenpas KemenImipas).

Menurut catatan Ditjenpas KemenImipas, sejak program ini dicanangkan hingga 29 Desember 2025, sebanyak 12.146 warga binaan permasyarakatan atau napi telah terlibat.

Luas lahan yang telah digarap untuk Ketahanan Pangan mencapai 4.424.101 meter persegi, dengan total premi yang didapatkan belasan ribu napi mencapai Rp 905.284.228.

Menteri Imipas Agus Andrianto mencanangkan program Ketahanan Pangan sebagai upaya menanamkan modal kemandirian bagi para napi, dengan membuka wawasan tentang ilmu pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Program ini juga menjadi wujud dukungan terhadap cita-cita Swasembada Pangan yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto.

Selain Ketahanan Pangan, Menteri Agus juga mendorong peningkatan kemampuan napi di sektor UMKM. Bengkel-bengkel pelatihan kerja di dalam lapas diberdayakan secara optimal untuk mendatangkan keuntungan ekonomi yang berdampak pada kesejahteraan napi.

Berbagai produk dari bengkel pelatihan, seperti pengolahan rotan hingga sabut kelapa, telah menembus pasar internasional.

Produk-produk tersebut antara lain coir shade buatan napi Lapas Kelas IIA Garut yang diekspor ke Spanyol, coir net buatan napi Lapas Kelas I Cirebon yang diekspor ke Korea Selatan, dan coco rope buatan Lapas Kelas IIB Purwodadi yang diekspor ke Belgia, Prancis, dan Australia.

Kementerian Imipas mencatat, ada 13 jenis produk napi yang telah diekspor ke 11 negara, dengan melibatkan 23.560 napi yang tersebar di 16 lapas.

Menteri Agus menjadikan Pulau Nusakambangan sebagai pilot project untuk peningkatan kemandirian napi. Ia berupaya mengubah stigma lapas sebagai tempat penghukuman.

Di Pulau Nusakambangan, kini terdapat balai pelatihan konveksi, balai pelatihan pelintingan rokok, balai pelatihan pembuatan pupuk organik, balai pelatihan pengolahan singkong menjadi mocaf, pabrik fly ash bottom ash yang menghasilkan material bangunan dari limbah PLTU, serta lahan-lahan ketahanan pangan.

"Kami ingin mewujudkan konsep sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Di satu sisi, kami membina warga binaan dengan pelatihan dan pemberdayaan. Di sisi lain, kami turut berkontribusi dalam ketahanan pangan nasional sebagaimana ditekankan oleh Presiden Prabowo Subianto," jelas Menteri Agus beberapa waktu lalu. (Agus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Sertifikat Negara Tegaskan Keabsahan Merek PITI Persaudaraan, Gugatan Dinilai Lemah dan Berpotensi Rusak Kepastian Hukum

Jakarta, Nusantarabicara    --  (1/1/2026.),  KETUM PITI. Dr. IPONG HEMBING PUTRA menyampaikan hal terkait Sengketa merek Persaudaraan Islam...

Postingan Populer